Sunday, 8 February 2015

Manusia sebagai HOMO FABER, LONGUENS, DAN RELIGIUS

Manusia sebagai HOMO FABER:
Homo Faber : artinya manusia dapat membuat alat-alat dan mempergunakannya atau
disebut sebagai manusia kerja dengan salah satu tindakan atau wujud budayanya
berupa barang buatan manusia (artifact). Manusia menciptakan alat-alat karena
menyadari kemampuan inderanya terbatas, sehingga diupayakan membuat peralatan
sebagai sarana pembantu untuk mencapai tujuan. Misalnya, karena indera matanya
tidak mampu melihat angkasa luar atau mahluk kecil-kecil maka diciptakan teropong
bintang dan mikroskop, karena terbatasnya kekuatan fisik maka diciptakannya roda
sebagai sarana utama keretauntuk mengangkut barang-barang berat.
 Manusia sebagai HOMO LONGUENS:
Homo Longuens: adalah manusia dapat berbicara sehingga apa yang menjadi
pemikiran dalam otaknya dapat disampaikan melalui bahasa kepada manusia lain.
Bahasa sebagai ekspresi dalam tingkat biasa adalah bahasa lisan. Antara suku bangsa
dengan suku bangsa lain terdapat perbedaan bahasa. Di tingkat bangsa, perbedaan
bahasa tersebut akan semakin jauh. Perbedaan lebih tinggi diwujudkan dalam tulisan
sehingga sebuah pemikiran dapat diterima oleh bangsa atau generasi bangsa lain (bila
tahu mengartikannya).
Manusia sebagai HOMO RELIGIUS:
Artinya manusia menyadari adanya kekauatan ghaib yang memiliki kemampuan lebih
hebat daripada kemampuan manusia, sehingga menjadikan manusia berkepercayaan
atau beragama. Dalam tahap awal lahir animisme, dinamisme, dan totenisme yang
sekarang dikategorikan sebagai kepercayaan, kadang-kadang dikatakan sebagai
agama alami. Kemusian lahirlah kepercayaan yang disebut sebagai agama samawi
yang percaya kepada Tuhan Yang Maha Esa, percaya kepada nabiNya, dan kitab
suciNya yang dipergunakan sebagai pedoman.


Semoga Bermanfaat kawan..:d 
Aliran dan Organisasi-Organisasi Pergerakan Kemerdekaan Indonesia
            Berbagai aliran dan golongan lahir pada masa pergeraka kemerdekaan seperti Budi Utomo, Syarikat Dagang Islam, Nahdatul Ulama (sebelum menjadi partai politik), dan Muhammadiyah. Organisasi-orgaisasi ini merupakan lembaga yang memepelopori pengoganisasian masyarakan Indonesia secara luas dan modern, namun pada masa pembentukannya, organisasi-organisasi tersebut lebih dimaksudkan untuk mengetengahkan tuntutan-tuntutan sosial dari golongan tertentu di dalam masyarakat. SDI, NU, dan Muhammadiyah misalnya, lebih bermaksud mewakili kepentingan mereka yang beragama Islam. Demikian pula dengan Budi Utomo yang maksudnya untuk meningkatkan Kehidupan dan Pendidikan orang Jawa.
            Di samping itu lahir pula kelompok-kelompok yang didasarkan kepada suku kedaerahan, seperti Paguyuban Pasundan (1914), Sarekat Sumatera (1918), Sarekat Ambom (1920), Rukun Minahasa dan kaum Betawi (1923). Sungguhpun pada permulaan berdirinya organisasi-organisasi ini lebih terangsang oleh masalah-masalah sosial namun pertanyaanya di dalam pergerakan kemerdekaan secara keseluruhan patut juga dicatat.
            Setelah disadari bahwa kunci dari segala masalah yang dihadapi oleh masyarakat Indonesia bukan hanya sekedar perbaikan keadaan sosial dan ekonomi, organisasi-organisasi tersebut di atas memperluas perjuangan kepada penuntutan trhadap kebebasan politisi dari kekuasaan kolonial Belanda. Dengan demikian ketidak puasan yang berkembang di kalangan elit lama karena kedudukan mereka telah tergeser kelapisan yang lebih rendah, ketidak puasan golongan menengah terhadap pengecualian perenan ekonomi mereka yang semakin mengecil, serta ketidakpuasan mereka yang telah memperoleh pendidikan secara Barat; beralih kepada pergerakan politik seperti Syarikat Islam (1912), PKI (1921), Partai Syarikat Islam(1926), Partai Nasional Indonesia(1927), sekedar menyebut beberapa nama.
Sumber Sistem Politik Indonesia yang di karang ARBI SANIT.